BULAN PeDeS 8th Edition (19.02.2012)

Kurikulum Perisai Diri

(Sumber Teknik)

Perisai Diri merupakan salah satu media / sarana pendidikan olah raga, seni dan budaya yang bergerak di cabang Pencak Silat. Seperti hal pendidikan pada umumnya, Perisai Diri memiliki jenjang pendidikan, yang di dalamnya terdapat suatu kurikulum. Jenjang pendidikan di Perisai Diri ini ditempuh dengan waktu yang cukup lama. Hal ini dikarenakan kurikulum Perisai Diri memberikan pelajaran tidak hanya dari sisi bela diri, melainkan juga mulai dari ilmu alam, kesehatan, kependidikan hingga sosial kemasyarakatan. Secara tingkatan, jenjang pendidikan Perisai Diri terbagi menjadi beberapa tingkat, yaitu Dasar I – Dasar II – Cakel (Calon Keluarga) – Putih – Hijau – Biru – Merah – Kuning. Dasar I menuju Dasar II ditempuh dalam kurun waktu paling cepat satu semester, begitu pula dari Dasar II menuju Cakel dan dari Cakel menuju Putih. Dari tingkat Putih menuju Hijau ditempuh dalam kurun waktu paling cepat dua semester, begitu pula dari Hijau menuju Biru. Dari tingkat Biru menuju merah ditempuh dalam kurun waktu paling cepat empat tahun. Sedangkan dari tingkat Merah menuju Kuning ditempuh paling cepat enam tahun. Melihat dari waktu tempuh jenjang pendidikan mulai dari tingkat Biru menuju Kuning, waktu tempuh per jenjang tingkatnya lebih lama dibanding dari tingkat Dasr I menuju Biru. Hal ini dikarenakan, mulai memasuki tingkat Biru, seorang Perisai Diri tidak hanya mempelajari materi yang ada di tingkatnya masing – masing, melainkan sudah mulai mengabdi kepada Perisai Diri dan mulai mengamalkan pelajaran – pelajaran yang pernah diperolehnya dengan cara menjadi seorang pelatih. Adapun jenjang setelah tingkat Kuning adalah Pendekar dimana pada tingkat tersebut, seorang Perisai Diri tidak hanya berlatih dan mengamalkan ilmu, melainkan sudah secara total mengabdi kepada Perisai Diri dengan bertanggung jawab atas kelestarian dan perkembangan Perisai Diri.

Kali ini akan dibahas secara singkat kurikulum Perisai Diri pada tiap jenjang tingkatannya dilihat dari segi sumber teknik yang dipelajari. Dimulai dari tingkat Dasar I, Dasar II dan Cakel. Pada jenjang ini seorang Perisai Diri belum diberikan pelajaran mengenai sumber teknik. Tingkat Dasar I hingga Cakel merupakan tahapan dimana seorang Perisai Diri wajib mengetahui dan mengenali bentuk – bentuk teknik yang ada di Perisai Diri, sehingga dapat dikatakan pada jenjang tersebut merupakan tahap pengenalan. Memasuki tingkat Putih dan seterusnya, seorang Perisai Diri mulai melakukan pendalaman mengenai segala teknik yang ada di Perisai Diri, mulai dari rasa hingga jiwa. Guna mempersiapkan seorang Perisai Diri memasuki tingkat Putih (masa transisi), maka pada tingkat Cakel, seorang Perisai Diri mulai dikenalkan dengan sebuah sumber teknik, yaitu Teknik Minangkabau.

Dimulai dari tingkat Putih (awal mula seorang Perisai Diri menjadi Keluarga Besar Perisai Diri), perjalanan dari tingkat Putih menuju Hijau, seorang Perisai Diri harus menguasai sumber teknik, yaitu Teknik Burung Mliwis dan Teknik Burung Kuntul. Pada kedua sumber teknik ini, seorang Perisai Diri mempelajari suatu kelenturan sehingga dapat dengan mudah bergerak atau melakukan sesuatu. Selanjutnya, perjalanan dari tingkat Hijau menuju tingkat Biru, seorang Perisai Diri mempelajari lebih dalam mengenai kelenturan dan mulai dikenalkan serta merasakan adanya power (tenaga). Oleh karenanya pada tingkat tersebut diberikan sumber teknik berupa Teknik Burung Garuda dan Teknik Harimau. Memasuki tingkat Biru, seorang Perisai Diri harus mampu merangkum suatu kelenturan dan menunjukkan sebuah tenaga yang dibuktikan pada sumber teknik yaitu Teknik Naga.

Dari tingkat Biru menuju tingkat Kuning, seorang Perisai Diri harus mampu merasakan teknik Perisai Diri hingga ke dalam jiwa, dibuktikan dengan sumber teknik yang kesemuanya bersimbol manusia, yaitu Teknik Satria, Teknik Pendeta dan Teknik Putri. Secara fisik, Teknik Satria dan Teknik Pendeta mempelajari power (tenaga) secara penuh sehingga jika kelenturan yang sudah didapat digabung dengan tenaga yang kuat maka akan timbul suatu kecepatan yang dahsyat. Rangkuman kelenturan dan tenaga hingga menghasilkan kecepatan yang dahsyat dibuktikan pada Teknik Putri. Secara kasat mata, Teknik Putri bersifat penuh kelembutan, namun dibalik kelembutannya tersebut mengandung sesuatu dahsyat. Sesuai dengan filosofinya, seorang putri tiada lain dan tiada bukan adalah seorang ibu. Begitu dahsyatnya seorang ibu hingga terdapat suatu pernyataan bahwa “Surga di bawah telapak kaki ibu”.

Setelah mempelajari keseluruhan sumber teknik yang ada, sesuai dengan harapan Guru Besar Perisai Diri, Bapak Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo, yaitu “Jadilah Pendekar yang Berbudi Luhur”.

Penulis

Nama : Yanuar Fauzuddin, SE, MM
Tmpt / Tgl Lahir : Surabaya, 03 Januari 1985
Tingkat Perisai Diri : Biru
Pekerjaan : Dosen Universitas Wijaya Putra
Contact
HP : 085648381705
E-Mail : yayan_melodic@yahoo.co.id
YM : yayan_melodic
FB : Yayan Melodic
Twitter : @yayan_melodic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: