BULAN PeDeS 4th Edition (15.01.2012)

Kekeluargaan Sebagai Budaya Organisasi Perisai Diri

Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001:391), budaya organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai yang dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota organisasi itu sendiri. Pada umumnya, budaya organisasi sendiri lebih dominan dibangun oleh founding father (pendiri) organisasi sendiri. Budaya organisasi berperan penting untuk membantu persatuan dan kesatuan dalam tubuh organisasi sehingga organisasi tersebut akan lebih mudah dalam mencapai tujuannya, karena budaya organisasi berfungsi untuk menyatukan persepsi internal organisasi diantara para anggotanya. Suatu organisasi yang didalamnya terdapat banyak perbedaan persepsi (terlebih lagi hingga menimbulkan perpecahan) maka organisasi tersebut akan mengalami hambatan dalam mencapai tujuannya (atau bahkan akan gulung tikar).

Secara global, melalui Perisai Diri, Bapak Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo (Pak Dirdjo : Guru Besar dan Pendiri Perisai Diri), memiliki tujuan untuk mempersatukan seluruh rakyat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya di tengah segala perbedaan yang ada. Guna mewujudkan tujuan ini, Pak Dirdjo membangun sebuah budaya organisasi dalam Perisai Diri, yaitu Kekeluargaan. Pak Dirdjo menggunakan Kekeluargaan sebagai budaya organisasi dalam Perisai Diri dikarenakan dalam Kekeluargaan mengandung sesuatu yang luar biasa yang dapat mencegah kemungkaran dan perpecahan. Sesuatu yang luar biasa tersebut adalah Silaturahim. Secara bahasa sederhana, Silaturahim adalah menjalin hubungan baik. Menjalin hubungan baik tidak hanya terpaku kepada orang – orang yang sudah berlaku baik, melainkan juga kepada orang – orang yang berlaku tidak baik, dengan harapan laku yang tidak baik akan menjadi baik, sehingga akan tercipta segala kebaikan.

Seluruh elemen yang ada di dunia, terutama umat manusia, tidaklah dapat terlepas dari suatu perbedaan. Perbedaan – perbedaan tersebut tidaklah dapat disamakan, melainkan dapat disatukan, sehingga mampu melangkah seiring dan sejalan. Untuk dapat menyatukan perbedaan – perbedaan yang ada, haruslah dimiliki rasa kekeluargaan (silaturahim) didalam diri masing – masing individu. Rasa kekeluargaan memiliki nilai – nilai yang sangat positif yang dapat menciptakan hubungan baik diantara seluruh umat manusia, antara lain : kepedulian, saling menghargai, saling membantu, dsb, yang mana dirangkum menjadi satu menjadi Rasa Kasih Sayang. Kasih sayang akan membuat yang tua, yang tinggi jabatannya, yang tinggi tingkatnya, yang lebih kaya, yang lebih memiliki pengetahuan, dll, mampu dan mau untuk mengamalkan dan menyantunkan segala yang dimilikinya dengan baik dan benar kepada yang lebih muda, yang lebih rendah jabatannya, yang lebih rendah tingkatnya, yang miskin, yang lebih kurang pengetahuannya, dll. Sebaliknya, kasih saying akan membuat yang lebih muda, yang lebih rendah jabatannya, yang lebih rendah tingkatnya, yang miskin, yang lebih kurang pengetahuannya, dll, mampu dan mau menghormati dengan baik dan benar kepada yang tua, yang tinggi jabatannya, yang tinggi tingkatnya, yang lebih kaya, yang lebih memiliki pengetahuan, dll. Secara sederhana, kasih sayang akan menciptakan suatu kondisi saling ingat mengingatkan untuk menuju kebaikan dan kebenaran. Bukan hanya yang lebih tua yang harus mengingatkan yang lebih muda, melainkan yang lebih tua juga harus mau diingatkan oleh yang lebih muda jika melakukan kesalahan.

Rasa kekeluargaan seperti yang telah disebutkan di atas lah yang dibudayakan Pak Dirdjo dalam Perisai Diri. Jadi secara internal, Perisai Diri memberikan pelajaran bagaimana mengasihi dan menyayangi antar sesama anggota Perisai Diri pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Jika sudah terdapat rasa kekeluargaan dalam diri masing – masing individu, maka individu – individu tersebut akan dapat lebih memiliki sikap dan jiwa dalam menghadapi segala perbedaan yang ada. Sehingga ilmu bela diri silat Perisai Diri yang dimiliki tidak digunakan untuk membuat segala perbedaan – perbedaan yang ada menjadi suatu perpecahan yang mengarah pada kemungkaran, melainkan digunakan untuk membuat segala perbedaan yang ada menjadi satu jua dan kemungkaran pun dapat dicegah. Budaya ini dituangkan dalam Janji Perisai Diri yang kelima, yaitu “Memupuk rasa kasih sayang dan kekeluargaan diantara sesama anggota”.

Penulis

Nama : Yanuar Fauzuddin, SE, MM
Tmpt / Tgl Lahir : Surabaya, 03 Januari 1985
Tingkat Perisai Diri : Biru
Pekerjaan : Dosen Universitas Wijaya Putra
Contact
HP : 085648381705
E-Mail : yayan_melodic@yahoo.co.id
YM : yayan_melodic
FB : Yayan Melodic
Twitter : @yayan_melodic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: